ARTIKEL

Prapaskah : Bersih Diri Dan Andalkan Tuhan

Masa Prapaskah, yang terbilang 40 hari semenjak Rabu Abu, bisa dianggap sebagai masa untuk membersihkan diri dan lebih mengandalkan Tuhan dalam keseharian hidup.

Sebelum merayakan Paskah, umat Katolik sudah semestinya menjalani Masa Prapaskah yang identik juga dengan Masa Pantang dan Puasa untuk mempersiapkan dan menata diri supaya layak dan siap merayakan Paskah.

Masing-masing dari kita biasanya memiliki intensi selama masa Prapaskah. Hal ini bertujuan untuk pemurnian diri agar dirinya kembali menjadi bersih dan suci serta mengembalikan hakekat kekudusannya layaknya awal mula manusia itu diciptakan adalah kudus. Selama masa Prapaskah, umat Katolik juga diharapkan untuk lebih banyak menggunakan serta mengandalkan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari dengan menjalani masa pertobatan.

Bermati Raga, Pantang Dan Puasa

Umat Katolik menghayati Masa Prapaskah dengan begitu sederhana, yaitu dengan bermati raga, pantang dan puasa. Makan kenyang cukup satu kali dalam satu hari, entah itu pagi, siang ataupun malam hari. Kemudian, makanan yang dikurangi tersebut dialokasikan dalam bentuk ‘Aksi Puasa Pembangunan’ yang akan diberikan kepada sesama yang lebih membutuhkan. Begitu sederhananya bahkan bagi anak-anak dan orang tua diatas 60 tahun tidak diwajibkan untuk menjalani masa Pantang dan Puasa.

Kesederhanaan Pantang Dan Puasa

Umat Katolik menghayati Masa Prapaskah dengan begitu sederhana, yaitu dengan bermati raga, pantang dan puasa. Makan kenyang cukup satu kali dalam satu hari, entah itu pagi, siang ataupun malam hari. Kemudian, makanan yang dikurangi tersebut dialokasikan dalam bentuk ‘Aksi Puasa Pembangunan’ yang akan diberikan kepada sesama yang lebih membutuhkan. Begitu sederhananya bahkan bagi anak-anak dan orang tua diatas 60 tahun tidak diwajibkan untuk menjalani masa Pantang dan Puasa.

Lewat pantang dan puasa, umat Katolik diajak untuk latihan rohani guna mendekatkan drii kepada Tuhan dan sesama. Melalui pantang dan puasa pula, umat Katolik menyangkal keinginan diri dan mempersatukan sedikit penderitaan kita dengan sengsara Kristus di kayu salib. (dp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *