Piksis

Piksis berasal dari bahasa Latin “pyx” yang berarti “kotak”, adalah sebuah wadah kecil berbentuk bundar dengan engsel penutup, serupa wadah jam kuno. Piksis berbentuk seperti kaleng kecil yang isinya lebih sedikit dibandingkan sibori.

Piksis

Piksis biasanya terbuat dari logam, di dalamnya berlapis emas. Piksis dipergunakan untuk menyimpan hosti besar maupun hosti kudus yang sudah dikonsekrasi. Biasanya digunakan oleh Prodiakon untuk mengirim komuni kepada mereka yang sakit maupun lansia, atau yang akan ditahtakan dalam kebaktian kepada Sakramen Mahakudus.

Piksis termasuk peralatan liturgi buatan. Sedangkan peralatan maupun bahan liturgi yang alami diantaranya adalah air, roti dan anggur, minyak, api dan terang, dupa ratus dan wangi-wangian, garam dan abu.

Baca juga : Patena

Beberapa Fungsi Peralatan Liturgi
Air
Air memiliki makna sinbolis untuk mengungkapkan pembersihan dosa dan penganugerahan keselamatan dan hidup baru. Hal ini tampak misalnya dalam liturgi baptisan.

Roti dan Anggur
Roti dan Anggur dalam perayaan Ekaristi memiliki dua makna pertama menjadi lambang hasil bumi dan usaha manusia. Kedua menjadi lambang karunia hidup ilahi.

Minyak
Minyak yang biasanya digunakan dalam lityrgi pada umumnya yang dibuat dari zaitun. Namun, karena sulitnya mencari tanaman zaitun, maka bisa digunakan minyak yang lain asal berasal dari tumbuh-tumbuhan. mInyak merupakan tanda daya kekuatan Allah yang menberi kekuatan bagi perjuangan hidup ini. (pemgurapan minyak pada katekumen dan penguatan) dan tanda penyertaan Allah dalam tugas kepemimpinan (tahbisan). Dalam liturgi dibedakan tiga macam minyak urapan: Oleum Infirmorum (OI) untuk orang sakit, Oleum Catechumenorum (OC) untuk katekumen, dan Sanctum Oleum Chrisma (SC) untuk baptisan, penguatan dan tahbisan suci.

Api dan Terang
Api dan terang/cahaya memiliki makna yakni misteri Paskah Kristus yang melambangkan terang Kristus sensiri yang telah bangkit dari wafat-Nya, Ia telah menganugerahkan keselamatan dan menghalau kegelapan dan kuasa dosa.

Dupa Ratus dan Wangi-wangian
Dipakai dalam liturgi sebagai ungkapan penghormatan kepada Allah. Kalau Imam mendupai altar, tabernakel atau salib, sejatinya Imam sedang menyampaikan penghormatan kepada Allah sendiri.

Garam dan Abu
Dalam liturgi, garam dipakai sebagai simbol pembersihan. Biasanya digunakan dalam liturgi baptisan dan pemberkatan air suci.
Abu biasanya dipakai pada hari Rabu Abu, untuk mengawali Masa Prapaskah. Abu digunakan untuk mengungkapkan rasa tobat dan penyesalan, pengakuan akan kerapuhan kita dan kelamahan kita. Abu juga melambangkan harapan akan kebangkitan.

Ilustrator : Karol Ignasio Harunara Leton

Advertisements
Advertisements