Konsep Swadaya

Pengabdi keadilan sangatlah perlu memahami adanya dua arti dari konsep swadaya: yang pertama negatif tidak tepat, yang kedua positif. Bagaimana dua arti ini dijelaskan?

Warga masyarakat lokal, nasional, regional, bahkan internasional saling berhubungan. Para warga. masyarakat di atas saling berinterelasi dan berinteraksi. Bagaimana sifat interelasi dan interaksi tersebut? Saling menguntungkan? Atau hanya pihak tertentu yang diuntungkan sedangkan pihak lain kurang diuntungkan?

Baca juga Seri Hidup Baru oleh Romo Aloysius Suryawasita, SJ

Pengabdi Keadilan Dan Rakyat Kecil

Kesucian Hidup Kaum Miskin

Pengabdi Keadilan Dan Ikatan Primordial

Pengabdi Keadilan, Ikan Dan Kail

Arti Pertama

Dalam hubungan internasional, khususnya dalam hubungan perdagangan, negara-negara majulah yang diuntungkan, sedangkan negara-negara miskin kurang diuntungkan. Hubungan yang ada bersifat dominasi negara kaya terhadap negara miskin. Hubungan dominasi atau penindasan di bidang ekonomi mencakup bentuk perdagangan, bantuan keuangan, investasi swasta asing, gerak kerja perusahaan-perusahaan multinasional di negara berkembang.

Negara-negara miskin diintegrasikan ke dalam sistem ekonomi dunia kapitalis. Situasi ekonomi negara miskin dikondisikan oleh pengembangan dan ekspansi ekonomi negara-negara kaya. Nilai tukar barang-barang produksi primer negara miskin terhadap barang-barang produksi negara kaya condong merosot terus, sementara itu repatriasi (kembali ke tanah asal) keuntungan perusahaan-perusahaan modal asing yang beroperasi di negara-negara miskin berjalan terus. Dominasi ini tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga mencakup bidang politik dan budaya. Banyak nilai, ide, sikap, serta institusi negara kaya memasuki, mempengaruhi dan akhirnya membangun sistem sosial di negara-negara miskin.

Karena adanya relasi ekonomi yang tidak adil itu, maka ada banyak suara dan tuntutan tentang perlunya perubahan tata ekonomi internasional atau perlunya diciptakan tata ekonomi internasional yang baru.

Kenyataan adanya dominasi negara kaya terhadap negara miskin dengan jelas diakui oleh Mitterrand (waktu menjadi Presiden Perancis). Dia menyatakan, “Terlalu banyak dana yang mengalir dari Selatan ke Utara, dibanding dari Utara ke Selatan. Ini merupakan suatu yang vital menuju adanya bentuk baru dari neokolonialisme dalam perdagangan dan mengalirnya uang”. Atas dasar kenyataan ini Mitterrand menegaskan tekad negaranya untuk menghapus pinjaman bernilai lebih dari 16 milyar franc (sekitar Rp 3,3 trilyun) yang diberikan kepada 35 negara miskin di dunia. Sebagian besar dari negara-negara miskin ini merupakan bekas jajahan Perancis dan Inggris di Afrika (Kompas 26 Mei 1989).

Dalam relasi dominasi, tidak masuk akal kalau negara miskin dianjurkan harus berswadaya. Kata swadaya menutupi adanya relasi dominasi dan penindasan; menutupi fakta bahwa hak-hak negara miskin telah dirampas oleh negara-negara kaya. Perlunya swadaya negara-negara miskin tanpa kesadaran akan fakta dominasi dan penindasan merupakan ideologi negara kaya, agar fakta dominasi dan penindasan tidak disadari oleh negara-negara miskin. Adalah suatu yang ironis, orang yang sudah diperas disuruh berswadaya.

Analog (ada kesamaan dan perbedaan) dengan yang terjadi dalam hubungan internasional tersebut adalah hubungan antara kelompok kaya dan kelompok miskin di suatu negara. Kelompok miskin yang hak-haknya telah dirampas oleh kelompok kaya juga dianjurkan untuk berswadaya. Orang miskin dikritik bermental minta-minta, pengemis, kurang atau malas berusaha. Padahal, hak-hak ekonomis, politik kelompok miskin telah dirampas oleh kelompok kaya.

Banyak lembaga sosial swasta yang tergerak hatinya untuk menolong kelompok miskin. Ada yang menganjurkan kelompok miskin untuk menabung, menata ekonomi rumah tangga mereka, pengeluaran disesuaikan secara ketat dengan pemasukan atau pendapatan mereka. Lembaga-lembaga sosial itu barangkali tidak menyadari bahwa kelompok miskin ditindas oleh pengorganisasian kehidupan masyarakat. Dengan demikian, bantuan lembaga sosial seperti itu ikut menyebabkan ketidaksadaran kelompok miskin bahwa mereka tertindas. Kelompok kaya akan sangat berterima kasih kepada lembaga-lembaga sosial semacam itu. Lembaga sosial semacam ini dapat disebut perpanjangan tangan kelompok kaya untuk meninabobokkan kelompok miskin.

Sering didengungkan perlunya partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan, dalam arti berswadaya. Untuk itu bisa terjadi semua warga desa dikerahkan untuk bergotong-royong membuat atau memperbaiki jalan di desa, memperbaiki pengairan, dan sebagainya. Para buruh tani yang tidak mempunyai tanah, dengan proyek semacam itu tidak mendapat keuntungan apa-apa. Bukankah mereka yang mempunyai tanah yang membutuhkan pengairan yang baik? Apalagi upah real buruh tani untuk mencangkul di Jawa begitu kecil. Ironisnya, untuk proyek di desa semacam itu mungkin sudah ada anggaran dari pemerintah daerah setempat.

Lomba-lomba kota, desa membuat kelompok miskin semakin terjepit. Demi lomba, dianjurkan swadaya masyarakat. Pagar-pagar yang indah harus mengganti pagar-pagar alam. Uangnya dari mana? Langsung dari masyarakat setempat. Ketua RT dan RW mengumpulkan para warganya untuk diajak berbicara tentang lomba. Yang dikatakan ialah perlunya setiap rumah berpagar besi atau batu bata. Warga yang miskin dan yang kritis kalau berani akan mengatakan “Ini kan proyeknya orang yang kelebihan uang”.

Kampung yang dulunya memberi kesan adanya kesamaan, berubah mencolok dengan adanya ketidaksamaan. Pembedaan keluarga kaya dan keluarga miskin makin mencolok. Keluarga miskin lama-kelamaan merasa tidak kerasan, sehingga secara terpaksa menjual tanahnya kepada warga kaya. Kampung yang semula menjadi tempat tinggal kelas menengah ke bawah berubah menjadi kampung orang-orang elite. Demikian anggaran pemerintah daerah untuk kebersihan dan lain-lain bisa diperkecil atau bisa masuk kantong orang-orang tertentu.

Baca juga Seri Hidup Baru oleh Romo Aloysius Suryawasita, SJ

Membangun Paguyuban Kaum Marginal

Pendidikan Politik

Kesucian Politik

Suara Hati

Arti Kedua

Pengertian swadaya baru berarti positif kalau dihubungkan dengan kenyataan adanya hubungan dominasi atau penindasan. Berhubung untuk memperjuangkan hak-hak negara miskin sangat sulit, maka perlulah negara-negara miskin berswadaya. Akan tetapi, usaha swadaya dilaksanakan dengan penuh kesadaran demi memperkuat usaha mereka dalam memperjuangkan hak-hak yang dirampas oleh negara-negara kaya. Negara-negara miskin perlu bekerja sama dan berjuang bersama dengan strategi collective self reliance atau berswadaya secara kolektif. Dalam hubungan ini muncul Kelompok 77 (kelompok negara-negara miskin). Himbauan-himbauan kepada negara kaya sama sekali tidaklah cukup.

Begitu pula dalam hubungan kelompok kaya dan kelompok miskin di suatu negara. Kelompok miskin terpaksa harus berswadaya, tetapi demi perjuangan untuk menuntut hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok kaya. Menuntut hak-hak yang dirampas tidaklah mungkin dalam waktu singkat. Mayoritas anggota masyarakat hanya akan dapat memiliki cukup kalau pengorganisasian kehidupan masyarakat sedemikian rupa sehingga sekelompok kecil tidak dapat memiliki terlalu banyak. Pengorganisasian demikian ini menuntut usaha keras dari mayoritas anggota masyarakat itu sendiri, dan memakan waktu lama.

Keswadayaan kelompok miskin dengan demikian menjadi keharusan dalam rangka menuntut hak-hak mereka. Kalau hal ini disadari, maka lembaga-lembaga sosial yang mau menolong kelompok miskin harus mengubah cara pelayanan mereka. Bukan lagi menyuruh orang miskin secara individual untuk menabung atau untuk menyeimbangkan anggaran pendapatan dengan anggaran pengeluaran, melainkan membantu orang miskin untuk secara berkelompok menabung dan mengatur ekonomi rumah tangga mereka sebagai modal perjuangan. Bukan anjuran agar terjadi individual self reliance, melainkan collective self reliance, suatu organisasi kelompok miskin yang mandiri dan berjuang untuk menuntut hak-hak mereka.

Baca juga Seri Hidup Baru oleh Romo Aloysius Suryawasita, SJ

Kemiskinan, Lingkungan Hidup dan Keadilan Sosial

Kerja Sama

Agama dan Keadilan Sosial

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari JagoKomsos.Org.
Mari bergabung di Grup dan Chanel Telegram “JAGO KOMSOS”, caranya klik link https://t.me/jagokomsos kemudian join. Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian KomPas, 28 Juni 1989.

Advertisements
Advertisements