Inilah Anak-Ku

Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.

Renungan Harian Katolik, Minggu 13 Maret 2022, Pekan Prapaskah II (Ungu).
Santa Eufrasia; B. Ludovikus dr Casoria
Bacaan I : Kej. 15:5-12.17-18
Mazmur : 27:1.7-8.9abc.13-14;
Bacaan II : Flp. 3:17-4:1
Bacaan Injil : Lukas 9:28b-36
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata:

“Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu.

RENUNGAN

Pengalaman ketiga murid menyaksikan transfigurasi Yesus memberikan gambaran nyala tentang kebahagiaan dan kemuliaan yang akan diberikan Tuhan kepada mereka jika mereka setia sampai akhir kepada-Nya. Pengalaman itu begitu memukau dan memberi rasa nyaman, sehingga Petrus ingin tetap mempertahankan (Luk. 9:28b-36).

Kebahagiaan dan kemuliaan itulah yang akan kita terima dari Tuhan Yesus Kristus, “tubuh kita yang fana menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (FIp. 3:1 7-4:1).

Saat ini, kenyataan itu adalah bagaikan janji Tuhan yang kita hayati sebagai pengharapan, seperti halnya janji Allah kepada Abraham (Kej. 15:5-12.17-18).

Abraham dikuatkan menghadapi pencobaan dan tantangan karena hidup dalam pengharapan akan janji Allah itu. Pada proses pertobatan Prapaskah ini, sering kali kita harus menyangkal keinginan dan berbagai nafsu kita, serta menjalani ketidaknyamanan hidup. Pengharapan akan janji kebahagiaan dan kemuliaan dari Tuhan itu bisa menjadi sumber kekuatan bagi kita agar tidak kehilangan iman, harapan, dan kasih kendati mengalami berbagai tantangan dan kesulitan hidup.

DOA

Ya Allah, bantulah kami agar setia memegang janji keselamatan yang Engkau tawarkan. Semoga kami tidak berpaling dan pada-Mu, tetapi selalu setia mendekatkan diri kepada-Mu. Amin.

Baca juga : Kasihilah Musuhmu

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari JagoKomsos.Org.
Mari bergabung di Grup dan Chanel Telegram “JAGO KOMSOS“, caranya klik link https://t.me/jagokomsos kemudian join.
Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Renungan: Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia.

Advertisements
Advertisements