JADWAL PAROKI

Menikah Itu Gampang, Tapi…

Orang bilang lebih mudah menikah daripada bercerai. Betulkah? Biar mudah dan sesuai dengan hakikat pernikahan Katolik, jawab saja ya. Jadi menikahlah dan jangan pernah sekalipun berpikiran untuk menceraikan pasanganmu. Semudah itu? Ya, semudah itu. Setidaknya, biarlah hanya maut yang memisahkan sebuah pernikahan. Ingatlah satu hal itu.

Pernyataan Sayangmu Lebih Nikmat Daripada Anggur

Sama seperti Raja Salomo dalam untaian indah penuh sayap Kidung Agung-nya banyak bertutur perihal pernikahan. Seperti apakah indahnya pernikahan itu?

”Kiranya ia mencium aku dengan ciuman mulutnya, karena pernyataan sayangmu lebih nikmat daripada anggur. Minyakmu harum baunya. Namamu bagaikan minyak yang dituangkan. Itulah sebabnya gadis-gadis mencintaimu. Tariklah aku bersamamu; marilah kita lari. Raja telah membawa aku ke kamar-kamar sebelah dalam miliknya! Biarlah kita bergembira dan bersukacita karenamu. Biarlah kita menyebutkan pernyataan sayangmu lebih daripada anggur. Selayaknyalah mereka mencintaimu.

Pernikahan itu lebih dari sekedar kata-kata. Pernikahan itu perbuatan. Seperti saat mendapati kepasrahan  pasangan kita sewaktu sebuah ciuman tulus mendarat di kening sambil berbisik, “Aku mencintaimu selalu”. Terlalu klise ya? Seperti itulah adanya.

Seperti disik pinus yang tertiup angin, seperti nyiur yang senantiasa melambai di tepi pantai, ucapan-ungkapan pernyataan rasa sayang itu akan terdengar lebih dari sekedar bisikan cinta, sebuah gelora yang akan menggerakkan kita untuk tetap dapat tersenyum demi medengarnya sekalipun. 

Aku memang gadis yang hitam, namun molek, hai, putri-putri Yerusalem, seperti kemah Kedar, namun seperti kain kemah Salomo. Janganlah memandang aku karena aku kehitam-hitaman, oleh karena matahari telah menerpa aku. Putra-putra ibuku marah kepadaku; mereka menetapkan aku sebagai pengurus kebun-kebun anggur, meskipun kebun anggurku, kebunku sendiri, tidak aku urus.

Pernikahan itu menerima apa adanya, tulus dan tak bersyarat. Semolek maupun segagah apapun pasangan kita, itu hanyalah badan jasmani yang rapuh dan suatu saat akan dapat runtuh seiring rentang renta usia manusia. Tapi hati? Kemolekan dan kegagahan hati tak akan pernah luntur. Semestinya pernikahan itu berdasar pada kemolekan maupun kegagahan hati, hingga di usia senja sekalipun, jalinan ikatan kebersamaan itu akan semakin erat terjalin.

Beri tahukanlah kepadaku, oh, kekasih jiwaku, di mana engkau menggembalakan domba, di mana engkau membiarkan kawanan berbaring pada tengah hari. Mengapa aku harus menjadi seperti wanita yang berselubung kain perkabungan di antara kawanan domba rekan-rekanmu?”

Bagaimana pasangan kita melayani, mendengarkan, menghormati, menghargai dan mengasihi hari demi hari adalah make up ataupun riasan terampuh dalam menjalani pernikahan yang abadi, satu untuk selamanya, sampai maut memisahkan.

Jika engkau tidak mengetahuinya, hai, yang paling jelita dari antara para wanita, pergilah mengikuti jejak kaki kawanan dan gembalakanlah anak-anak kambingmu di dekat tempat kediaman para gembala.”

Pernikahan itu adalah sebuah bentuk kepasrahan, ketulusan dan kerendahan hati dalam selubung kasih. Menerima apa adanya bagaimana dan siapapun pasangan yang diberikan Tuhan kepada kita adalah sebuah bentuk kepasrahan yang dilandasi dengan ketulusan dan kerendahan hati. Komunikasi adalah perwujudannya dan kasih adalah hukumnya.

”Dengan kuda betinaku pada kereta-kereta Firaun aku menyamakan engkau, oh, gadisku. Moleklah pipimu di antara kepang-kepang rambut, lehermu di tengah untaian manik-manik. Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas berbentuk lingkaran, dengan kancing-kancing perak.”

Pernikahan itu adalah soal hati, bukan melulu soal materi. Persembahkanlah yang terindah dengan segenap hati, maka berkah kebahagian akan memenuhi sunyi-sepi maupun tawa canda hari-hari kebersamaan kalian.

Selama raja duduk pada meja bundarnya, serai wangiku mengeluarkan keharumannya. Bagiku, kekasihku bagaikan sekantong mur; ia akan bermalam di antara buah dadaku. Bagiku, kekasihku bagaikan setandan bunga pacar di antara kebun-kebun anggur En-gedi.”

Jadikan sikap saling menghormati dan mendengarkan yang utama dalam sepanjang malam-malam maupun terik siang yang akan begitu panjang kalian lalui bersama.

Lihat! Engkau jelita, oh, gadisku. Lihat! Engkau jelita. Matamu seperti mata merpati. Lihat! Engkau tampan, kekasihku, juga menyenangkan. Dipan kita pun dari dedaunan. Balok-balok rumah besar kita adalah dari pohon aras, kasau-kasau kita dari pohon juniper. Di sanalah aku duduk, dan buahnya manis bagi langit-langitku. Ia membawa aku ke rumah anggur, dan panjinya di atasku adalah cinta.

Cinta itu sederhana. Ketika kita sanggup berbagi kasih, itulah hakikat cinta yang susungguhnya.

Nyanyi Sunyi Dua Sejoli

Adalah sah bagi seorang anak laki-laki maupun dara belia untuk membayangkan sejuta lima makna pernikahan. Bahwa pernikahan itu indah, bersatunya dua sejoli yang dilumuri cinta. Pernikahan itu manis, seperti permen loli yang diingini oleh setiap anak kecil. Pernikahan itu impian, tentang menjadi raja dan ratu di tanah dan ranjang milik sendiri.

Sejatinya, pernikahan itu lebih dari sekedar ciuman-ciuman manja, cumbu-rayu hingga pergumulan tubuh dalam desah basah deraian keringat. Pernikahan itu mendengarkan, bukan selalu ingin didengarkan. Melayani, bukan ingin dilayani. Menghargai, bukan melulu ingin dihargai. Menghormati, bukan semata ingin dihormati. Dan semua me- lainnya tanpa banyak menuntut di-

Loh, koq… jadi kompleks banget?

Biar tidak bingung, anggap saja pernikahan itu lebih dari sekedar bersatunya dua orang yang saling mendamba, dipenuhi cinta dan menyatakan ikatan sucinya di hadapan romo serta dua orang saksi. Pernikahan itu ibarat nyanyian sunyi dua sejoli yang dipenuhi kasih. Tak perlu teriak-teriak. Tak perlu pamer. Cukup dinikmati dan dirasakan berdua, dihayati dan dijalani berdua, sampai maut memisahkan.

Semudah itu?

Ya… namun semua itu tetaplah harus dipersiapkan dengan baik. Beruntunglah pasangan muda-mudi gereja yang hendak meresmikan ikatan cinta suci mereka dalam jalinan pernikahan. Gereja Katolik Paroki Santo Yusup Ambarawa melalui Tim Pelayanan Pastoral Keluarga yang bernaung di bawah Bidang Pelayanan Paguyuban dan Persaudaraan, menyelenggarakan Katekese Persiapan Perkawinan yang akan diselenggarakan pada hari Minggu, 3 Oktober 2021, pukul 08.00 – 16.00 WIB di Rumah Retret Pangesti Wening Susteran OSF Ambarawa. Untuk pendaftaran dan informasi selengkapnya, silahkan langsung mendatangi Kantor Sekretariat Paroki Santo Yusup Ambarawa, atau menghubungi nomor (0298) 591028.

Siap menikah?

Persiapkan rumah tangga bahagiamu melalui Katekese Persiapan Perkawinan.

Tuhan memberkati. Berkah Dalem.

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *