Metamorfosa Berubah Menjadi Lebih Indah

Sadarkah kita, bahwa seekor kupu-kupu yang begitu indah warnanya, sejatinya berasal dari ulat bulu yang begitu buruk wujud bentuknya? Si Buruk Rupa ulat bulu berubah menjadi sebuah kepompong. Oleh alam dan kuasa Ilahi, sebuah kepompong lalu berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu indah beraneka warna. Secara sederhana, inilah yang dimaksud dengan metamorfosa atau sebuah perubahan, berubah menjadi lebih baik tentunya.  

Secara fisiologis maupun psikologis, manusia juga mengalami perubahan dari satu fase menuju fase berikutnya. Secara fisik, manusia tumbuh dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga usia lanjut. Seiring pertumbuhan fisik seseorang, manusia juga turut berkembang secara psikologis, baik hubungannya dengan diri pribadi maupun dengan sesamanya. Fase demi fase perubahan itulah yang sekilas mirip dengan metamorfosa ala kupu-kupu ataupun berudu. 

Hampir sama dengan kedua analogi di atas, gereja kita juga mengalami metamorfosa. Secara fisik, jelas bahwa Pandemi Covid-19 telah mengubah keseluruhan wajah gereja kita satu tahun terakhir ini. Beberapa bulan yang lalu, sebelum adanya kelonggaran aturan dari pemerintah dan keuskupan, bahkan dapat dikatakan tak ada lagi Misa Pertama, Misa Kedua, bahkan Misa Sore di gereja. Tak ada lagi umat yang berbondong-bondong dari berbagai wilayah di seputar Ambarawa, dengan pakaian terbaiknya, hadir di gereja dan mengikuti Misa Kudus. Virus Corona telah meluluh-lantahkan hampir segala sendi kehidupan. Tak terkecuali Perayaan Ekaristi.

Berikutnya, Perayaan Ekaristi dialihkan menggunakan jalur online lewat social media live streaming. Kegiatan-kegiatan di gereja juga turut dihentikan sesuai dinamika aturan yang berlaku dari pemerintah setempat. Perayaan Ekaristi secara online menjadi solusi sementara. Umat seolah pasrah, mengikuti misa di rumah-rumah, baik mandiri maupun komunal.

Misa tanpa mengambil air suci ketika hendak dimulai menjadi sebuah pemakluman. Salam damai yang juga sekaligus menggambarkan adat ketimuran, turut dihilangkan. Seolah diharamkan, salam perjumpaan bahkan digantikan dengan aneka model salam yang terasa kikuk ketika dilakukan pada awalnya, mulai dari salam lengan, salam tos-tosan, salam dengan menyembah, serta aneka salam yang diciptakan sesuai kreatifitas manusia dan tanpa melanggar aturan serta mengikuti protokol.

Masih kurang? Pada puncaknya, bahkan komuni sekalipun ditiadakan, digantikan oleh ‘komuni batin’. Hmmm… ini yang paling menarik. Komuni maupun penerimaan tubuh Kristus yang selama ini menjadi sebuah kewajiban bagi umat Kristiani, seolah menjadi pemakluman baru. Apa mau dikata? Corona telah melumpuhkan segalanya.

Kita lewati bagian ini. Anggap saja sebagai iklan ataupun penyegar ingatan. Hal yang menarik bukan pemakluman demi pemakluman sehubungan dengan Covid-19. Sesuai dengan istilahnya, yaitu pemakluman, maka kita semua harap maklum. Titik. Tidak perlu lagi diperdebatkan. Cukup maklum saja. Selesai.

Hal yang menarik dari fenomena masa Pandemi Corona ini justru pada metamorfosa gereja. Gereja kita yang begitu megah secara fisik, kini seolah terwakili oleh jangkauan kamera yang tak dapat menyentuh sudut-sudut tertentu. Umat yang selalu berjubel, bahkan kadang sampai di pelataran gereja, dengan pakaian terbaik yang dapat dikenakan, kini dapat lebih leluasa mengikuti misa sambil duduk di sofa di rumah masing-masing lewat siaran online. Tak sedikit bahkan, yang mengenakan pakaian seadanya. Lagi-lagi ini adalah fakta. Bukan lagi pemakluman ataupun keleluasaan umat dalam mengikuti misa, namun terlebih sebagai sebuah bentuk metamorfosa, betapa misa sekalipun ternyata mengalami perubahan bentuk wujudnya.

Itulah manusia. Jangankan masing-masing diri kita, berudu maupun kupu-kupu sekalipun mampu berubah seiring takdir dirinya sendiri. Kita dikaruniai akal, dimana kesulitan apapun, kendala apapun, pemakluman apapun, pastilah akan dapat ditemukan solusi maupun jalan keluarnya. Jadilah kendala, permasalahan dan terutama pemakluman umat terhadap kegiatan Misa Kudus sedikit banyak teratasi.

Pernahkah terbayang, ketika segalanya, termasuk misa, dihentikan untuk sementara, apa yang dilakukan oleh para pastor? Tiduran sepanjang minggu? Berdoa dan berdoa? Sendiri? Ternyata romo sekalipun mengalami kerinduan. Rindu untuk menggelar dan memimpin misa. Lagi-lagi ini adalah fakta. Seorang pastor yang salah satu tugas maupun pekerjaan utamanya adalah untuk menghunjukkan misa, tiba-tiba turut ‘dirumahkan’, bisa dikatakan senasib dengan buruh pabrik yang terkena pengurangan karyawan, bahkan untuk waktu yang tidak dapat dipastikan. Sedikit bedanya, konsumsi sehari-hari para romo tetap sudah ada yang menyediakan, sedang buruh pabrik yang dirumahkan harus sedikit menggigit jarinya sendiri dengan pemasukan bulanan mereka.

Lagi-lagi sudahlah. Bukan itu yang ingin dibahas. Itu tadi sekedar penyegar ingatan. Banyak kisah-kisah dibalik imbas dari corona. Semoga ada yang mau berbagi refleksi.

Kembali soal metamorfosa tadi, secara khusus perubahan ataupun metamorfosa kali ini, akan lebih menekankan soal bagian dari gereja yaitu Dewan Pastoral Paroki. Kebetulan tahun 2021 ini adalah awal mula pergantian DPP yang langsung dihadapkan pada satu fase Pandemi Corona dan tak dapat mengelak. Mau tak mau, banyak program reguler yang harus diubah. DPP berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berproses dan berkarya di tengah bayang-bayang Covid beserta segala dampaknya.

Sebagai catatan saja, DPP periode kali ini digawangi oleh banyak sosok muda bertalenta, yang siap membawa Gereja Katolik Paroki Santo Yusup Ambarawa menuju metamorfosa yang lebih baik, lebih menawan, lebih anggun dan lebih melayani tentunya.

Sudah larut malam. Masih banyak yang ingin ditulis. Tapi untuk lain waktu saja. Sekali lagi, semoga tulisan singkat ini menjadi wacana pembuka, betapa banyak kisah, kejadian, permenungan hingga aula hikmah yang dapat kita petik dari metamorfosa gereja seiring Pandemi Corona yang masih belum mau sirna. Akhir kata, mari kita perangi pandemi lewat kebersamaan, yakin dengan tangan-tangan Tuhan, patuhi protokol dan tetaplah tersenyum, sesendu apapun harimu. Tuhan memberkati.  

Advertisements
Advertisements