Jumat Agung Di Ujung Relung

Hari ini, Jumat, 2 April 2021, kita memperingati wafat Tuhan kita Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa kita dalam suasana Pedemi Virus Corona yang masih belum mau sirna. Pembatasan jumlah umat menjadikan panitia bekerja ekstra keras menambah jumlah misa dalam satu hari ini. Sebanyak lima kali Perayaan Jumat Agung diselenggarakan dalam satu hari ini. Sedangkan umat yang belum dapat mengikuti misa di gereja, masih dapat mengikuti misa Live Streaming  Jago Komsos Paroki Santo Yusup Ambarawa.

Rasa-rasanya, Corona masih belum mau sirna. Dunia seperti terluka. Dan misa di gereja sekalipun menjadi berbeda seiring protokol kesehatan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Panitia Paskah berusaha semaksimal mungkin untuk melayani umat. Dimulai dari pintu masuk yang langsung disambut dengan pengecekan suhu, cuci tangan hingga absensi elektronik menggunakan QR Code. Tak hanya itu, kotak kolekte juga disediakan di pintu masuk, tempat duduk yang diberi jarak hingga penggunaan masker dan hand sanitizer.

Mengapa semua ini terjadi?

Rasa-rasanya tak salah jika kita sedikit merenungkan situasi saat ini dengan luka-luka yang diderita oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Yesus Dan Mahkota Duri

Mengapa Yesus dimahkotai duri? Mungkin karena Yesus pernah mengatakan bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi. Bukan hanya pengakuan Yesus sebagai raja, tapi dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita berpikir bahwa diri kita, keluarga, komunitas, bahkan suku kitalah yang paling baik di antara orang lain.

Sering kali kita berpikir yang bukan-bukan terhadap orang dan menaruh praduga bahkan menjustifikasi pribadi, keluarga atau suku-suku tertentu. Mahkota duri yang dipakai Tuhan Yesus mengajak kita untuk berpikir positif, tidak menaruh praduga macam-macam kepada sesama.

Yesus Dan Anggur Yang Pahit

Di atas bentangan kayu salib, Yesus merasa haus dan minta minum, namun justru diberikan cawan yang pahit. Peristiwa ini seperti mengingatkan kita, bahwa segala pikiran negatif terhadap orang lain sepertinya tidak cukup hanya kita saja yang menyimpan dalam pikiran dan benak kita. Kita justru cenderung menyampaikannya kepada orang lain.

Yesus diberi cawan yang pahit untuk mengingatkan kepada kita bahwa selama ini apa yang keluar dari mulut kita, kata-kata fitnah, makian dan kata-kata kotor lainnya kepada sesama. Mungkin banyak orang di sekitar kita merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita karena mulut kita lebih suka mencemooh, mencibir, menghardik, memaki, memfitnah, menyudutkan orang lain dengan kata-kata yang tidak elok.

Hari ini Yesus dicucuki cawan yang pahit untuk mengingatkan kita semua agar tidak lagi mengeluarkan kata-kata pahit yang menyakitkan orang lain melainkan kata-kata yang memberi peneguhan dan motivasi bagi orang lain. Mari kita belajar untuk menyampaikan hal-hal yang positif kepada siapa saja yang kita jumpai dalam keseharian hidup kita.

Tikaman Pada Lambung Yesus

Bahkan setelah Yesus wafat sekalipun, para serdadu masih menikam lambung Yesus hingga mengeluarkan air dan darah. Para prajurit berusaha meyakinkan bahwa Yesus benar-benar sudah wafat. Apa yang kita pikirkan dalam otak kita, apa yang kita sampaikan lewat mulut sering kali kita simpan dalam hati kita.

Penikaman lambung Yesus seolah bukan sekadar meyakinkan bahwa Tuhan sudah wafat, akan tetapi mengingatkan kita semua bahwa dalam keseharian hidup sering kali kita menutup hati atas keberadaan orang lain di sekitar kita. Banyak orang butuh perhatian dan kasih sayang kita, banyak orang mengharapkan keterbukaan pintu maaf dari hati kita, namun hati kita sering kali tertutup.

Hari ini Tuhan Yesus membiarkan lambung dan hati-Nya ditikam. Peristiwa ini mengingatkan kita untuk membuka hati, membuka pintu maaf bagi sesama, dimana selama ini hati kita tertutup untuk mereka.

Paku Yang Tertancap Di Tangan-Nya

Apa yang kita pikirkan, kita bicarakan dan kita simpan dalam hati, tidaklah cukup. Bahkan lebih dari semua itu, kita melakukannya dengan tangan kita. Para serdadu memaku tangan Yesus bukan sekadar agar tidak jatuh dari kayu salib akan tetapi mengingatkan kepada kita bahwa apa yang kita pikir, apa yang kita bicarakan, apa yang kita simpan dalam hati kita, sering kali kita lakukan dengan tangan kita.

Banyak terjadi fitnah, pelecehan, pencemaran yang terjadi saat ini melalui media sosial maupun dunia nyata. Banyak terjadi tindakan kriminal, penganiayaan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh umat manusia terhadap sesama. Tuhan menciptakan tangan kita untuk memberi bantuan dan melakukan kebaikan demi keselamatan kita dan orang lain. Tangan Tuhan dipaku untuk mengingatkan kita agar dari waktu ke waktu melakukan kebaikan melalui tangan kita. Jika selama ini tangan kita tertutup untuk membantu dan melakukan kebaikan terhadap sesama. Hari ini kita diajak untuk mengulurkan tangan kita terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan kita.

Paku Yang Tertancap Di Kaki-Nya

Tak hanya kedua tangan, kedua kaki Yesus sekalipun turut dipaku di kayu salib. Hal ini dilakukan prajurit agar tidak terlepas dari palang penghinaan yakni salib. Sering kali apa yang kita pikir, apa yang kita bicarakan, apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita lakukan, semua itu karena kaki kitalah yang menghantar kita untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Kaki kitalah yang membawa diri kita pada pikiran perkataan dan perbuatan. Oleh karenanya, gunakanlah kaki kita untuk mengantar seluruh tubuh kita serta untuk melakukan kebaikan demi kemuliaan Allah Sang Pencipta.

Sengsara Yesus Dan Corona

Kemudian, apa relevansi dari permenungan luka-luka Tuhan kita Yesus Kristus dengan Pandemi Virus Corona yang kita hadapi saat ini? Terlepas dari awal mula dan sebab akibat muncul serta tersebarnya Virus Corona ini, ada baiknya kita melihat kembali dan memaknai kejadian ini. Dunia bingung, panik, cemas dengan kehadiran virus ini. Berbagai macam cara dilakukan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini. Vatikan sepi, Yerusalem sepi, tembok ratapan dipagari, Paskah begitu sunyi. Virus Corona datang seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu banyak yang hanya menjadi topeng belaka. Ketika Corona datang kita dipaksa mencari Tuhan. Bukan di Basilika St. Petrus, bukan di dalam gereja, bukan di mimbar khotbah, bukan di doa lingkungan, bukan dalam misa minggu, melainkan dalam kesendirian kita, pada mulut kita yang terkunci, pada hakekat yang senyap, pada keheningan yang bermakna.

Corona mengajarkan pada kita, Tuhan itu bukan melulu pada keramaian, Tuhan itu bukan melulu pada ritual. Tuhan itu ada pada jalan keputusasaan kita dengan dunia yang berpenyakit. Corona memurnikan agama, bahwa tidak boleh ada yang tersisa kecuali Tuhan itu sendiri. Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar kita, Tuhan itu bukan melulu pada ritual. Datangi, temui dan kenali Dia di dalam relung jiwa dan hati nurani kita sendiri. Temukan Dia di saat yang teduh dimana kita hanya sendiri bersamaNya. Sesungguhnya, Kerajaan Tuhan ada dalam diri kita. Temui dan kenali Dia di dalam relung jiwa dan hati nurani kita sendiri. Temukan Dia di saat yang teduh dimana kita hanya sendiri bersama-Nya. Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam diri kita. Hati orang yang beriman adalah Rumah Tuhan. Biarlah hanya Tuhan yang ada, biarlah hanya nurani kita yang bicara. Biarlah kita disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini dan mengambil hikmah dari kejadian ini. Berpikirlah yang positif, mengeluarkan kata-kata yang menyejukkan, membuka hati kepada siapa saja yang kita jumpai, lakukanlah pekerjaan yang membantu dan menyelamatkan orang lain dan gunakanlah kaki untuk pergi mewartakan kebaikan Tuhan dalam hidup anda kepada siapa saja.

Selamat memperingati Wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan Memberkati. Amien.

Baca juga : Paskah Bertabur Berkah

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.