Efata! Terbukalah!

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Renungan Harian Katolik, Jumat 11 Februari 2022, Pekan Biasa V (Hijau).

Hari Orang Sakit Sedunia

SP Maria dr Lourdes;

Bacaan I : 1Raj. 11:29-32.12:19

Mazmur : 81:10-11ab.12-13.14-15;

Bacaan Injil : Markus 7:31-37

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.

Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

RENUNGAN

Kerajaan Salomo dikoyakkan Tuhan, karena ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Apa yang tadinya baik dan masyhur kini berantakan. Hal ini sangat berbeda dengan kehadiran dan tindakan Yesus yang kita dengar dalam Injil hari ini. Yesus membuat orang takjub dan tercengang karena “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.” Kehadiran Yesus membawa sukacita dan harapan.

Kehidupan dan kehadiran Yesus merupakan model utama bagi para pengikut-Nya. Artinya, di mana pun pengikut Kristus berada mestinya di sana ada kebaikan, ada harapan, ada sukacita. Kelemahan fisik, seperti dialami oleh Salomo pada masa tuanya, dapat mempengaruhi kehidupan spiritual kita dan membelokkannya ke arah yang lain sesuai selera orang lain. Untuk itu, merawat relasi secara terus-menerus dengan Tuhan melalui doa dan aktivitas kerohanian lainya sangatlah penting, karena umur tua bukanlah jaminan bahwa kita kuat dan dewasa dalam hidup beriman.

DOA

Tuhan, buatlah kami setia berpaut pada-Mu. Dengan demikan, kehadiran kami di tengah masyarakat membuat segala-galanya menjadi baik. Amin.

Baca juga : Hanya Meninggalkan Remah-Remah

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari JagoKomsos.Org.
Mari bergabung di Grup dan Chanel Telegram “JAGO KOMSOS“, caranya klik link https://t.me/jagokomsos kemudian join.
Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber renungan : Ziarah Batin 2022, OBOR Indonesia.

Advertisements
Advertisements